Forum diskusi yang diselenggarakan di Loby GOR Ewangga Kuningan pada 07 Januari 2012 cukup menarik minat warga Kuningan secara umum, diskusi ini sendiri dihadiri beberapa praktisi seni di Kuningan, seperti perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Seniman, Budayawan, Mahasiswa, Pelajar, Dosen, Guru, dan Umum.
Acara yang digelar mulai pukul 16.00 WIB sore ini menampilkan dialog yang serius namun tetap dalam suasana santai. Diawali pengenalan tentang masing-masing organisasi seni diikuti dengan mengangkat karya dan permasalahan yang terjadi di lapangan, maka terjadilah debat-debat kecil disertai solusi-solusi yang tentunya membangun.
Beberapa hal yang diangkat dalam diskusi diawali pemaparan singkat Adis Susanto dari Rumah yang Yahud selaku moderator, di antaranya tentang aspek pariwisata Kuningan yang sepenuhnya belum tergarap, kurangnya komunikasi antar seniman, kurangnya perhatian pemerintah setempat terhadap seniman, dan adanya seniman yang onani.
Dalam hal ini, Arip Uwil dari Dapur Sastra mengungkapkan nada serupa, yang menitik beratkan pada komunikasi antar seniman yakni kerenggangan yang terjadi antara seniman tua dan muda, di mana seniman muda jarang sekali berdialog dengan seniornya, begitu sebaliknya seniman yang dikatakan tua ini masih tertutup untuk berbagi. Hal lain diungkapkan Tifani Kautsar, tentang minat orang Kuningan terhadap kesenian yang dapat dilihat dari upacara-upacara adat pada penikahan misalnya, orang kuningan lebih banyak memilih goyang dombret, kemudian kurang support dari instansi serta campur tangan pemerintah daerah sehingga wadah, sarana, dan prasarana yang kurang memadai.
Lain halnya dengan Ciremai Street Art community, mereka mengemukakan sulitnya berkarya karena berbenturan dengan media yang tidak jarang mendapat respons negatif dari beberapa pihak, seperti warga pemilik media dan pihak-pihak keamanan yang menganggap karya-karya mereka sebagai coretan-coretan kotor tak bermakna. Namun kegelisahan ini dijawab oleh Dede Nono, satu-satunya perwakilan dari instansi terkait, yang memberikan sedikit solusi tentang perizinan baik sebagai organisasi ataupun sebagai seniman dalam berkarya.
Jika kegelisahan Ciremai Street Ar community berada pada wilayah media, maka permasalahan Jepret yang diwakili Tedi Iskandar adalah momen setelah itu, berkarya dengan hasil yang bagus namun begitu sukar mengomunikasikan karya tersebut dengan masyarakat Kuningan, tempat menjadi permasalahan yang krusial. Meskipun Jepret sempat memamerkan sekian karya, balutan cahaya dalam bingkai foto di Pandapa Paramarta dan mendapatkan kepuasan yang luar biasa, namun tetap saja komunikasi hasil karya dengan penikmat ini masih sangat terbatas dan membutuhkan dukungan serta kerja sama secara nyata dari pihak pemerintahan.
Kurangnya minat kaum muda Kuningan dalam berkesenian memang dirasa kurang, menurut Endang Rosid atau lebih dikenal Jupen, kesenian itu berawal dari lingkungan, perlu adanya pendidikan sejak dini, dan sekolah menjadi wilayah formal dalam menulari minat-minat dalam kesenian. Namun kemudian muncul sebuah permasalahan lain yang diangkat oleh Tatang, bahwasanya di wilayah formal ini pun telah terjadi pembohongan, di mana seni tidak lagi diajarkan oleh mereka dengan latar belakang seni. Sehingga muncullah seni bajakan. Kemudian, masih serupa dengan hadirin forum diskusi, berkenaan dengan tempat yang lagi-lagi menjadi masalah serius, gedung kesenian, yang katanya memang ada, tapi apakah benar ‘ada’?
Dalam kesempatannya Hendra menegaskan bahwa kesenian selalu saja berbenturan dengan kebutuhan hidup sehari-hari meskipun ia tetap berkarya. Kemudian muncullah pernyataan bahwa berkesenian janganlah memikirkan kebutuhan hidup seperti makan, padahal memang berkesenian di Kuningan tidak strategis apalagi jika dihubungkan dengan nilai ekonomi. Maka pernyataan lain ikut meramaikan, apakah memang seni itu sengsara? Atau memang senada dengan apa yang diungkapkan Deki dari teater Banyu, bahwasanya hal ini pun berhubungan dengan politik anggaran untuk seni di Kuningan tidak berpihak, ditambah minat warga terhadap seni itu kurang seperti yang dikatakan Tifani?
             Akhir kata, forum diskusi RyY ini pun berakhir sekitar pukul 20.00 WIB dengan banyak keluh dan kesah yang mencuat ke permukaan dari berbagai insan seni Kuningan yang hadir. Tempat, apresiasi, ekonomi, dan komunikasi menjadi kendala utama. Lalu, bagaimanakah caranya agar Kesenian di Kuningan ini bisa maju? Sebenarnya hal apa yang menghambat? Apakah karena kurangnya kepedulian terhadap seni tradisi dari kalangan muda Kuningan seperti yang diungkapkan Dadang tarompet? Kurangnya komunikasi antar seniman dan minat warga terhadap seni seperti yang diungkapkan Adis, Arip, dan Tifani? Kebijakan politik yang kurang mendukung dengan anggaran untuk seni yang kurang memadai seperti yang diungkapkan Deki? Ataukah memang semua itu memang ada dan menjadi masalah yang kompleks? Jika demikian, bukanlah menjadi hal sulit, namun memang perlu usaha ekstra untuk memajukan kesenian Kuningan, dukungan dari berbagai pihak seperti lembaga pemerintahan, instansi terkait, pelaku seni, serta warga Kuningan sangatlah penting.



0 comments: